Calistung bagi Anak Usia Dini

Saya sepakat bahwasanya calistung bukanlah “pembelajaran utama” yang harus dijejali pada anak usia dini. Saya sepakat bahwasanya menumbuhkan kecintaan anak pada kegiatan membaca jaaauuh lebih penting daripada belajar membaca itu sendiri. Saya juga sangat sepakat, bahwasanya anak perlu dipersiapkan untuk belajar membaca. Sehingga pre-reading skills merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses belajar membaca itu sendiri.

 

Saya pun sepakat bahwasanya ada banyak hal urgent lain yang dibutuhkan anak-anak kita di tahun-tahun pertama kehidupannya, semisal: mengenal Tuhannya (pengokohan tauhid), mencintai Rasul-Nya (penanaman iman), pembelajaran adab dan akhlak, bonding dengan keluarga inti, meng-upgrade kemandirian dan sosial-emosi, serta stimulasi sensorimotor dan aspek perkembangan lainnya sesuai tahapan usia.

 

Namun, saya juga tak sepakat jika pengenalan calistung sama sekali tidak boleh diberikan pada anak usia dini. Sebab, bagaimanapun mereka akan terpapar huruf dan angka, semisal: saat kita bacakan buku, saat melihat jam dan kalender di rumah, dll.

 

Dalam hal ini, saya lebih senang jika pengenalan calistung untuk anak usia dini memperhatikan metode, proses penyampaian, serta kesiapan anak itu sendiri. Dengan demikian, tiap anak bisa saja mengalami ‘masa sensitif terhadap huruf/angka’ di waktu yang berbeda.

 

Saya lebih senang anak-anak mengenal calistung dengan metode yang ‘soft’ di usia dini dengan proses yang fun dan berkesinambungan daripada mereka belajar calistung beberapa pekan di lembaga les dengan langsung menggunakan worksheet hanya karena mengejar target “masuk sekolah dasar harus sudah bisa membaca”. 😏

 

Maka..tidak adil rasanya jika kita langsung men-judge seorang ibu yang anaknya telah bisa berhitung atau membaca di usia dini mereka tanpa tahu bagaimana proses yang diajarkan pada anaknya, tanpa tahu bagaimana keseharian pembelajaran lain dalam rumahnya 😉

 

Bisa jadiiii anaknya memang bisa membaca, menulis, dan berhitung bersebab buah keimanan yang telah ditanamkan oleh orangtuanya. Berkat do’a-do’a tulus dan pendidikan yang baik dari Ayah-Ibunya.

 

Bisa jadiii anaknya memang kini pintar calistung namun juga telah kokoh imannya, baik adabnya, santun akhlaknya, bagus kemandiriannya 😊

 

So…tidak perlu men-judge seseorang jika kita belum melihatnya lebih dekat 😉

 

Juga tidak perlu ikut-ikutan sesuatu yang tak kita ketahui dasar ilmunya. Belajar, ayo kita terus belajar untuk mendampingi buah hati kita: sang pembelajar sejati.

 

Semangat pagi, semangat mendampingi buah hati 💪

 

IG : @juliasarahrangkuti

FP FB : Julia Sarah Rangkuti

Web : juliasarahrangkuti.com

Apa itu pre-reading skills dan bagaimana cara mengajarkan calistung yang ‘soft’ untuk anak balita? Cek postingan selanjutnya disini, ya.. 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *