Ibu, Jaga Lisanmu!

Ibu, Jaga Lisanmu!
Julia Sarah Rangkuti

Menjadi ibu ialah sebuah anugerah yang indah. Membersamai anak dalam tiap hela nafas mereka. Menyaksikan mereka bertumbuh dan berkembang setiap hari adalah sebuah kesyukuran tak ternilai.

Namun, kanak-kanak kita tak selalu ‘lucu dan menggemaskan’ macam bayi dalam iklan pospak. Ada kalanya mereka merengek, menangis, marah, bahkan ‘membahana badai’.

Terkadang kala lelah, jenuh, penat, letih, dan kufur iman sedang melanda, kata-kata kita yang keluar dari lisan jauh lebih tajam daripada silet. Mengoyak hati kecil mereka yang bersih. Merobek akal mereka yang jernih. Menyakiti diri mereka yang masih suci.

M.E.L.U.K.A.I.

Ahhh..
Duhai Ibu, tahan lisanmu!

Bukankah kata-kata bisa menjadi sebuah do’a? Tegakah kau melukai anakmu sendiri? Tegakah kau melontarkan ucapan yang menyakiti?

Seringkali yang terjadi bukan karena tingah laku mereka yang tak sepenuhnya salah, namun karena pada ekspektasi kita yang berlebih atau manajemen emosi yang masih begitu cetek. Ibu sumbu pendek yang masih suka meledak-ledak karena hal kecil.

Ahhh..Ibu. Sungguh, menjadi ibu adalah ladangnya sabar yang tak jemu-jemu.

Marilah kita berkaca pada Ibunda Imam As-Sudais. Kala Sudais kecil asyik bermain pasir lalu menaburkannya di atas makanan yang usai dimasak ibunya. Ibunya marah dan berkata,
“idzhab ja’alakallahu imaaman lilharamain”
(Pergi kamu! Biar kamu jadi imam di Haramain).

Tentu kini kita mengenal Syeikh Abdurrahman as-Sudais, Imam Masjidil Haram yang nada tartilnya menjadi favorit kebanyakan kaum muslimin di seluruh dunia.

Ahh..ibu..sudahkah amarahmu pun menjadi do’a yang indah untuk anakmu? Bukan caci-maki yg tak berharga..

Mari Ibu, jaga lisan kita!
Kelola amarahmu!

***

Dari ibu yang masih belajar menjaga lisannya,
Tangerang, 2017
IG @juliasarahrangkuti
FB Julia Sarah Rangkuti

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *