Bersikap Adil Pada Anak Pertama

Bersikap Adil Pada Anak Pertama
Julia Sarah Rangkuti

Situasi 1
“Itu balon Adeeek.” terdengar suara si kecil berteriak.

“Bukan..ini balon Kakak, Dek.” Kakak tak terima balonnya diakui si Adek.

Adek terus merengek meminta balon. Kakak tetap mempertahankan miliknya.

Hingga..suara tangis pecah dan keluarlah kata-kata dari mulut Ibunya “Kakaaaaa..udah deh..ngalah kenapa sih sama Adeknya!”

***
Situasi 2
“Adek.. cari Abang. Abang duduk di sini,” ujar Abang.

Adek menghampiri, lalu merengek “Adek duluan tadi yg duduk di situ, Bang. Aaawaaass..ini tempat duduk Adek,” sambil mendorong Abang agar ia bisa duduk.

Abang tak memberi. Wong sejak tadi bangku itu kosong. Adek tetap merasa itu kursinya. Hingga suara tangis pecah dan keluarlah kata-kata Ibunya, “Abaaaang..bisa ngalah ga sih sama Adeknya? Bangku gitu doang, juga!”

***
Sound familiar??

Mengapa Abang/Kakak yang harus terus mengalah, Ibuuuk? Apakah karena ia anak pertama? Apakah karena ia lebih besar? Ow..oww…it’s not fair..

Menjadi seorang Kakak bukanlah suatu hal yang mudah untuk anak balita, khususnya. Jika dahulu sebelum kita menikah kita tak pernah belajar parenting, apatah lagi si Kakak: ia pun tak pernah dan tak punya pengalaman menjadi Kakak. Lalu, mengapa kita harus terus mengadilinya? Memintanya mengalah. Memintanya berbagi. Berharap ia dapat menjaga adik-adiknya. Dan, berharap Kakak bisa mengerti atas harapan-harapan kita padanya.

Hingga..pada suatu titik, kita lupa bahwa harapan kita padanya terlalu besar dan melampaui kapasitas diri mungilnya. Sehingga, betapa mudah kita mencapnya sebagai anak pelit, tak sayang adik, juga labelling negatif lain yang tak sepantasnya. Ahhh..ibuuuuk…it’s not fair! 😢

Padahal, kita saja yang belajar parenting-entah dari seminar ataupun buku-buku, seringkali melakukan salah yang sama, tak terhitung masuk lubang yang sama berkali-kali. Mengapa kita tak bersabar dengan usahanya yang (lagi-lagi) tak pernah belajar dan tak punya pengalaman menjadi Kakak sebelumnya.

Ahhh..ibuuuk..betapa anak pertama kita pun ingin dimanjakan. Dibela hak-haknya. Disikapi secara adil. Dipeluk tubuhnya. Didekap hatinya. Digendong seperti adiknya.

Aahhhh..ibuuuk..betapa anak pertama kita sungguh-sungguh telah berjuang untuk menjadi Kakak yang baik seperti yg kita inginkan, namun mungkin mereka seringkali tak tahu caranya. Bukankah, mereka seringkali mengajak bermain adiknya? Melucu untuk adiknya dan membuatnya tertawa? Membelikan jajanan yang sama untuk adiknya?

Ahhh..ibuuuk..bukankah anak pertama kita senantiasa istimewa? Sebab, atas kelahiran dirinyalah kita benar-benar menjadi IBU..

Ahhh..ibuuuuk..sungguh mereka pun sedang belajar. Tolong maafkan jika masih banyak kesalahan dan kekurangan. Sama seperti mereka yang selalu memaafkan salah dan kurang kita.

Aaahhh..ibuuuk…ayo peluk anak pertama kita. Buah hati pertama yang selalu istimewa 😘😘

Peluk sayang untuk semua anak pertama. Hai Kakak, dimanapun kalian berada semoga Bapak-Ibumu senantiasa bersikap adil.

Special notes untuk Abang Kenzie. You are special boy. Forever 😙😙

***
Tangerang, Mei 2017
Dari seorang ibu yang terus belajar bersikap adil pada anak-anaknya
IG: @juliasarahrangkuti
FP FB: Julia Sarah Rangkuti

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *